DARI RINDU MENJADI CANDU

Setelah bulan lalu (belum) sampai puncak Hargo Dumilah, dan sampai di pos 5. Tepat sebulan kemudian, saya dan istri kepikiran untuk remidi ke Gunung Lawu. Kebetulan karena Madrasah saya sudah 5 hari kerja, jadi hari Sabtu bisa dipakai untuk refreshing atau kegiatan lainnya. 


foto yang diingkan istri dari dulu, foto di Warung Mbok Yem

Jalur yang digunakan pun masih sama, jalur Cemoro Sewu (yang sebenarnya menurut beberapa teman, berat untuk pemula. Tapi jalur terpendek). Karena istri juga sudah ok, bahkan paling antusias mempersiapkan untuk pendakian besok (tektok) hehehe. Rententan pendakian ini beraawal dari naik ke #mongkrang Juli tahun lalu, walau hanya sampai puncak candi. Juli tahun ini, ke puncak #mongkrang . Dilanjut Agustus, penasaran dengan Lawu via Cemoro Sewu sampai pos 5. Sebulan kemudian, tepatnya 9 September. Alhamdulillah puncak Hargo Dumilah resmi dipijak.

BASECAMP
Di basecamp, seperti biasa kami sarapan dulu, sambil nunggu loket buka. Sekarang loket Cemoro Sewu buka pukul 07.00 (meski kadang telat hehehe). Di basecamp, kami sempat foto foto untuk dokumentasi. Kami juga berkenalan dengan teman yang juga tektok sendiri yaitu mas Irfan [@cakirfan_], karena peraturan di Cemoro Sewu tidak diperbolehkan registrasi sendiri, jadi mas Irfan ikut di rombongan kami. Jadilah kami bertiga berangkat bareng.


JALUR PENDAKIAN
Karena baru kenalan, sepanjang jalur kami sama sama bercerita. Mas Irfan asli Surabaya , rumahnya dekat dengan kampus saya ITS Surabaya. Mas Irfan lulusan Unair dan sekarang melanjutkan studi S2 di UGM Yogyakarta. Sama sama senang lari dan trail, akhirnya kami ngobrolnya panjang, sampai tidak terasa pos 1 dan pos 2 sudah dilewati. Di Pos 3 mas Irfan, pamit untuk duluan untuk duluan, mungkin karena kami memang sudah target turun mendekati maghrib, dan Mas Irfan yang rencana sebelum Maghrib sudah sampai basecamp. Akhirnya di pos 3 kami berpisah, tak lupa kami tukar kontak IG dan siapa tau nanti ketemu di puncak.


Mas Irfan

Kami melanjutkan ke Pos Pos berikutnya, memori bulan lalu membuat istri sedikit khawatir saaat di pos 4 dimana lokasi paling lama dilalui. Tapi saat sudah di pos 4, keinginan untuk aktualisasi seperti bulan lalu diurungkan (wes pernah foto foto nang kene, hehehe). Akhirnya kami sampai di pos 5 lebih cepat 2 jam dari waktu sebelumnya. Melewati Jolotundo, Sendang Drajat, dan Hargo Dalem, membuat istri larut dengan celoteh saya tentang tempat tersebut. Sempat dilema, mau ke Mbok Yem atau ke Puncak dulu, akhirnya kami memutuskan ke puncak dahulu baru ke Mbok Yem. Rute yang menanjak, membuat istri berulang kali istirahat untuk ambil nafas dan merehatkan kaki dengan bantuan tracking pol. Oya, pentingnya membawa tracking pol sangat berguna saat di rute menanjak di jalur summit Lawu via Sewu.


Alhamdulillah...


Dipuncak kami juga bertemu satu rombongan yang juga baru bertemu di jalur pendakian, tak lupa juga berbagi kontak.

Setelah puas berfoto di puncak, kami turun ke Warung Mbok Yem makan nasi Pecel tertinggi di Pulau Jawa. Kemudian dilanjut ke Sendang Drajat untuk sholat Ashar dan lanjut ke Basecamp. Sepanjang perjalanan kami bareng dengan 3 pendaki yang ternyata alamatnya dekat dengan istri. Alhamdulillah sampai bawah setelah waktu Isya, dan akhirnya sampai Madiun sekitar pukul 10.30 malam. 

Yak, begitu pengalaman saya dan istri di pendakian Gunung Lawu kali ini, yang Alhamdulillah berakhir dengan Puncak Hargo Dumilah. Semoga bisa mencoba jalur lainnya  (Kandang dan Candi Cetho)

Salam Lestari, Anang Safroni
Gunung Lawu via Sewu 3265 mdpl | 09.09.2023 😊




Post a Comment

© Blog ANANG. All rights reserved. Premium By Raushan Design